Jakarta
ICCN Siap Dampingi Bengkalis Bangun Ekosistem Kabupaten Kreatif Berbasis Budaya dan Kolaborasi
Penulis: timmediaiccn
Jakarta, 4 Agustus 2026 – Indonesia Creative Cities Network (ICCN) menyatakan komitmennya untuk mendampingi Kabupaten Bengkalis dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan melalui pendekatan berbasis potensi lokal, budaya, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan Ketua Umum ICCN, Fiki Satari, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan Bengkalis Creative Network di Kantor LPP TVRI Senayan, Jakarta.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Plt. Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bengkalis Ardiansyah, Ketua Bengkalis Creative Network Riza Zuhelmy, Bendahara Bengkalis Creative Network Dendy Ariandi, Founder Bengkalis In Frame sekaligus Project Director Ekraforia 2026 Berry Arneldi, serta Sekretaris Eksekutif ICCN Mario Devys. Pertemuan menjadi langkah awal untuk menyusun arah pengembangan Kabupaten Bengkalis sebagai daerah kreatif melalui pemetaan potensi, penguatan jejaring komunitas, hingga perencanaan program kolaboratif.
Dalam diskusi tersebut, ICCN melihat Bengkalis memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Selain dikenal sebagai wilayah pesisir dengan bentang alam yang khas, Bengkalis juga memiliki kekayaan warisan sejarah berupa bangunan peninggalan kolonial Belanda serta identitas budaya Melayu yang masih hidup melalui tradisi Tari Zapin, pantun, syair, musik tradisional, hingga keberadaan para maestro seni budaya.
Ketua Umum ICCN, Fiki Satari, menegaskan bahwa setiap daerah memiliki karakter yang berbeda sehingga strategi pengembangannya harus disusun berdasarkan identitas dan potensi lokal.
"Setiap daerah memiliki DNA yang berbeda. Karena itu, pembangunan kabupaten kreatif tidak bisa diseragamkan. Langkah pertama adalah mengenali karakter, potensi, dan kekuatan lokalnya sehingga kita dapat menentukan strategi yang tepat sekaligus menemukan quick wins yang mampu menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif secara berkelanjutan," ujar Fiki.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan kabupaten kreatif tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kuatnya kolaborasi antarkomunitas sebagai penggerak utama ekosistem.
"Forum lintas komunitas kreatif sebetulnya menjadi nomor satu karena inilah yang akan mengawal civil society atau masyarakat madani. Pemerintah boleh berganti, tetapi ketika komunitasnya tetap kompak, memiliki visi yang sama, dan terus menjaga semangat kolaborasi, mereka akan mampu mengonsolidasikan berbagai aktivitas masyarakat. Dengan begitu, pembangunan ekonomi kreatif tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan," tegas Fiki.
Dalam pertemuan tersebut, ICCN juga memberikan sejumlah masukan strategis mengenai pentingnya melakukan pemetaan DNA daerah sebagai dasar penyusunan kebijakan, memperkuat forum lintas komunitas sebagai pengawal ekosistem kreatif, serta mengintegrasikan subsektor unggulan seperti arsitektur Melayu, kuliner khas, kriya, dan seni pertunjukan ke dalam satu rantai nilai ekonomi kreatif yang saling terhubung.
Selain membahas arah pengembangan daerah, pertemuan turut membahas penyelenggaraan Ekraforia 2026 yang digagas Bengkalis Creative Network. Kegiatan tersebut dirancang menjadi ruang kolaborasi lintas subsektor ekonomi kreatif melalui pemanfaatan bangunan bekas penjara Belanda sebagai ruang kreatif yang menghadirkan pameran sejarah, showcase 21 subsektor ekonomi kreatif, area kuliner, serta berbagai aktivitas komunitas. Mengusung tema "Simfoni Simetria", Ekraforia diharapkan menjadi momentum penguatan identitas kreatif Kabupaten Bengkalis sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis budaya.
Melalui pertemuan ini, ICCN menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi Kabupaten Bengkalis, mulai dari pemetaan potensi, penyusunan strategi pembangunan, penguatan tata kelola ekosistem ekonomi kreatif, hingga membuka akses jejaring kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional. Pendampingan tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi Bengkalis menjadi kabupaten kreatif yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.
Tentang ICCN
Indonesia Creative Cities Network (ICCN) merupakan jejaring kabupaten dan kota kreatif di Indonesia yang berperan sebagai katalis kolaborasi dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif. Melalui berbagai program pendampingan, penguatan kapasitas, dan pembangunan jejaring, ICCN mendorong lahirnya kabupaten dan kota kreatif yang berkelanjutan, berdaya saing, serta berkontribusi terhadap pembangunan nasional dan jejaring kreatif dunia.
Belum ada komentar.