BerandaSemua Berita
Detail Berita

Jambi

MAJANG PUTO HADIRKAN “TAUT: MANUSIA, RUANG, DAN CERITA”, PAMERAN FOTOGRAFI YANG MERESPONS RUANG DAN KEHIDUPAN KAWASAN PASAR KOTA JAMBI

Penulis: timmediaiccn

MAJANG PUTO HADIRKAN “TAUT: MANUSIA, RUANG, DAN CERITA”, PAMERAN FOTOGRAFI YANG MERESPONS RUANG DAN KEHIDUPAN KAWASAN PASAR KOTA JAMBI

1

|

Jambi, 2 November 2026 — Majang Puto, sebuah platform media yang menjadi wadah bagi para fotografer untuk memamerkan, memperkenalkan, dan mengapresiasi karya visual, kembali menghadirkan pameran fotografi bertajuk “TAUT: Manusia, Ruang, dan Cerita”. Pameran tunggal karya fotografer Riko Mappedeceng ini berlangsung selama satu minggu, mulai 2 hingga 8 November 2026, bertempat di Toko Kopi Rasa Sedap, Pasar Kota Jambi.

Pameran ini menghadirkan fotografi tidak hanya sebagai medium dokumentasi visual, tetapi juga sebagai sarana untuk membaca, memahami, dan merefleksikan hubungan antara manusia, ruang, dan cerita yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Mengusung tema utama “TAUT: Manusia, Ruang, dan Cerita”, pameran ini berangkat dari gagasan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari ruang tempat mereka hidup, beraktivitas, dan membangun pengalaman. Manusia bukan sekadar objek yang direkam melalui sebuah gambar, melainkan bagian dari kehidupan yang terus bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Ruang dalam pameran ini tidak hanya diposisikan sebagai latar sebuah peristiwa. Lebih dari itu, ruang menyimpan jejak, menghadirkan pengalaman, dan memperlihatkan berbagai perubahan yang berlangsung seiring waktu. Sementara itu, cerita tumbuh dari perjumpaan manusia dengan ruang, pengalaman yang dijalani, serta makna yang terbentuk di dalamnya.

Wakil Wali Kota Jambi Apresiasi Ruang Kreatif dan Pergerakan Ekonomi Kreatif

Pameran TAUT turut mendapatkan perhatian dan apresiasi dari Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha. Ia melihat penyelenggaraan pameran ini sebagai inisiatif yang dapat mendukung pergerakan ekonomi kreatif sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan seni dan budaya.

Menurutnya, kehadiran ruang kreatif seperti ini memberikan kesempatan bagi para pelaku seni dan komunitas untuk menampilkan karya, membangun jejaring, serta berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Terlebih, pameran TAUT tidak hanya menghadirkan karya fotografi di dalam ruang pamer, tetapi juga merespons sejumlah lokasi di kawasan Pasar Kota Jambi.

Kehadiran kegiatan seni di kawasan pasar menjadi upaya menarik untuk mempertemukan praktik kreatif dengan kehidupan perkotaan. Kawasan pasar tidak hanya dipandang sebagai pusat aktivitas perdagangan, tetapi juga sebagai ruang sosial yang menyimpan sejarah, aktivitas, perjumpaan, dan dinamika kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan seperti ini, ruang-ruang di kawasan perkotaan dapat dimanfaatkan sebagai tempat tumbuhnya aktivitas kreatif yang melibatkan masyarakat secara lebih luas. Pameran TAUT sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak selalu harus berlangsung di ruang-ruang seni formal, tetapi juga dapat hadir dan berkembang melalui pemanfaatan ruang publik dan kawasan yang memiliki kehidupan sosial tersendiri.

Merespons Ruang dan Kehidupan Kawasan Pasar Kota Jambi

Salah satu hal menarik dalam penyelenggaraan pameran TAUT adalah keterkaitannya dengan kawasan Pasar Kota Jambi. Pemilihan lokasi pameran bukan sekadar pertimbangan tempat penyelenggaraan, melainkan bagian dari upaya menghadirkan praktik seni yang berinteraksi dengan ruang perkotaan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Melalui tema “Manusia, Ruang, dan Cerita”, pameran ini turut merespons sejumlah lokasi di kawasan Pasar Kota Jambi sebagai ruang yang memiliki dinamika sosial, aktivitas ekonomi, sejarah, serta berbagai pengalaman manusia. Kawasan pasar dipandang tidak hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai ruang publik yang menyimpan beragam cerita dan memperlihatkan hubungan antara manusia dengan lingkungan perkotaan.

Respons terhadap kawasan tersebut diwujudkan melalui rangkaian kegiatan pameran dan program pendukung, termasuk walking tour yang mengajak pengunjung mengenali dan membaca kembali ruang kota melalui pengalaman langsung. Dengan demikian, hubungan antara pameran dan kawasan pasar tidak hanya terletak pada lokasi penyelenggaraan, tetapi juga pada gagasan untuk menjadikan ruang kota sebagai bagian dari percakapan seni dan kebudayaan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa fotografi dapat menjadi pintu masuk untuk memahami ruang secara lebih luas. Tidak hanya melalui apa yang tertangkap oleh kamera, tetapi juga melalui pengalaman, interaksi, dan cerita yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat.

Tiga Kurator dengan Perspektif Lintas Disiplin

Salah satu aspek penting dalam pameran TAUT adalah keterlibatan tiga kurator dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman profesional yang berbeda. Kolaborasi ini menghadirkan perspektif lintas disiplin dalam membaca karya-karya Riko Mappedeceng, khususnya mengenai hubungan antara manusia, ruang, dan cerita.

Ketiga kurator tersebut adalah:

1. Rian Indra Eftritianto – Independent Researcher in Museum Studies & Archaeology

Rian Indra Eftritianto merupakan peneliti independen dalam bidang kajian permuseuman dan arkeologi yang berbasis di Jambi, Sumatra, Indonesia. Ia memiliki perhatian terhadap kajian sejarah, arkeologi, permuseuman, dan pemajuan kebudayaan.

Melalui pendidikan, penelitian, pengembangan program kebudayaan, serta kolaborasi lintas komunitas dan industri kreatif, ia berupaya mendorong pelestarian warisan budaya dan pengembangan museum sebagai ruang publik yang edukatif, partisipatif, dan relevan bagi masyarakat.

Dalam konteks pameran TAUT, latar belakang tersebut menghadirkan perspektif mengenai ruang sebagai tempat yang menyimpan jejak sejarah, ingatan kolektif, dan pengalaman manusia.

2. Muhammad Muttaqun – Fotografer

Muhammad Muttaqun merupakan seorang fotografer yang memandang dunia melalui lensa. Baginya, fotografi bukan sekadar aktivitas menangkap gambar, melainkan proses merangkai rasa, mengabadikan momen, dan menyimpan cerita dalam setiap bingkai.

Perspektif ini menghadirkan pendekatan fotografi sebagai medium ekspresi personal yang tidak hanya berorientasi pada apa yang terlihat, tetapi juga pada emosi, pengalaman, dan cerita yang ingin disampaikan melalui sebuah gambar.

3. Imran Rosadi – Fotografer Profesional dan Praktisi Fotografi Dokumenter

Imran Rosadi merupakan fotografer profesional Indonesia dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam bidang fotografi perjalanan, dokumenter budaya, serta eksplorasi alam dan kehidupan manusia. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, ia mengembangkan perspektif visual yang berakar pada kekayaan budaya, keberagaman masyarakat, dan lanskap Nusantara.

Ia merupakan pengurus Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) yang mewakili klub Fotografer Amatir Sulawesi Tengah (FAST). Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Instanusantara Indonesia periode 2021–2026.

Karyanya mencakup berbagai proyek fotografi nasional dan internasional. Selain aktif sebagai kontributor Lion Air Group Magazine, ia juga menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Hello FPSI.

Keterlibatan ketiga kurator dengan latar belakang berbeda tersebut memberikan dimensi tersendiri bagi pameran TAUT. Perspektif sejarah dan permuseuman, pengalaman personal dalam fotografi, serta praktik fotografi profesional dan dokumenter bertemu dalam satu ruang pembacaan karya.

Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa fotografi dapat menjadi medium untuk memahami kehidupan manusia, perubahan ruang, identitas, serta cerita yang berkembang di tengah masyarakat.

Pameran sebagai Ruang Pertemuan Seni, Pengetahuan, dan Komunitas

Melalui rangkaian karya yang ditampilkan, TAUT mengajak pengunjung untuk melihat lebih dekat, membangun hubungan antargambar, serta menemukan makna di balik hal-hal yang tampak. Pameran ini menjadi ruang pertemuan antara fotografer, kurator, karya, dan pengunjung untuk membaca kembali hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.

Tidak hanya menghadirkan pameran fotografi, rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan berbagai aktivitas yang membuka ruang diskusi, eksplorasi, dan interaksi antarkomunitas.

Beberapa kegiatan yang dihadirkan meliputi:

- Sharing Session bersama Jurnalis, membahas fotografi, media, dan praktik bercerita melalui visual.

- Workshop Arsitektur, mengeksplorasi hubungan manusia dengan ruang dan lingkungan binaan.

- Hunting Foto, sebagai ruang praktik dan eksplorasi fotografi secara langsung.

- Walking Tour, mengajak peserta membaca dan mengamati ruang kota melalui pengalaman berjalan serta interaksi dengan lingkungan sekitar.

Melalui berbagai aktivitas tersebut, Majang Puto berharap pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya fotografi, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman bagi para pegiat seni, fotografer, arsitek, jurnalis, komunitas kreatif, serta masyarakat umum.

Pameran “TAUT: Manusia, Ruang, dan Cerita” terbuka untuk publik dan dapat dikunjungi pada 2–8 November 2026 di Toko Kopi Rasa Sedap, Pasar Kota Jambi.

Sebab, setiap gambar memiliki cerita, setiap ruang menyimpan jejak, dan setiap perjumpaan menghadirkan makna.

TENTANG MAJANG PUTO

Majang Puto merupakan platform media yang menjadi wadah bagi para fotografer untuk menampilkan, memperkenalkan, dan mengapresiasi karya fotografi. Melalui berbagai program dan kegiatan, Majang Puto berupaya menghadirkan ruang pertemuan bagi fotografer, komunitas, serta masyarakat untuk saling berbagi perspektif melalui medium visual.

INFORMASI PAMERAN

- Nama Acara: Solo Exhibition by Riko Mappedeceng

- Tema: TAUT: Manusia, Ruang, dan Cerita

- Penyelenggara: Majang Puto

- Fotografer: Riko Mappedeceng

- Kurator: Rian Indra Eftritianto, Muhammad Muttaqun, dan Imran Rosadi

- Tanggal: 2–8 November 2026

- Lokasi: Toko Kopi Rasa Sedap, Pasar Kota Jambi

- Rangkaian Kegiatan: Pameran Fotografi, Sharing Session bersama Jurnalis, Workshop Arsitektur, Hunting Foto, dan Walking Tour.

Informasi dan Kontak Media: @Majangputo

Default Avatar
3000 karakter tersisa

Belum ada komentar.