BENGKULU
Bawa Misi Budaya Bengkulu, Grup Musik Kaganga Siap Tampil di Panggung Internasional LTTMF 6.0 di Danau Toba
Penulis: timmediaiccn
BENGKULU – Nama Bengkulu akan kembali menggema di panggung musik tradisi internasional. Grup musik tradisi asal Bengkulu, Kaganga, resmi terpilih sebagai salah satu delegasi penyaji pada Lake Toba Traditional Music Festival LTTMF 6.0 yang akan digelar pada 5–6 September 2026 di The Caldera Nomadic Escape dan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Festival yang digagas Rumah Karya Indonesia RKI ini sudah memasuki tahun keenam. LTTMF telah menjadi ruang pertemuan penting bagi komposer, musisi, peneliti, dan pegiat budaya dari berbagai daerah. Tahun ini festival mengusung semangat pelestarian tradisi yang berdialog dengan isu kontemporer seperti lingkungan hidup, toleransi, dan keberlanjutan budaya.
Melalui proses kurasi ketat, Kaganga dipercaya mewakili Bengkulu. Kehadiran mereka di Danau Toba bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan sebuah misi budaya untuk memperkenalkan identitas, nilai-nilai lokal, dan kekayaan tradisi Bengkulu kepada khalayak nasional maupun dunia.
Direktur Festival LTTMF 6.0 Ramanta A. Sinulingga bersama Ketua Rumah Karya Indonesia Marojahan A. Manalu menyampaikan bahwa kehadiran Kaganga akan memperkaya warna musikal festival tahun ini.
"Kearifan lokal selalu menjadi bingkai autentik dalam setiap denyut kegiatan Rumah Karya Indonesia. Kami tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membangun dialog antara tradisi dengan isu-isu kontemporer seperti lingkungan hidup dan toleransi. Kehadiran Grup Kaganga dengan eksplorasi bunyi yang khas diyakini akan memperkaya spektrum estetika musik tradisi Indonesia di panggung global," ujar Ramanta.
Menjelang keberangkatan, seluruh personel Kaganga saat ini tengah menjalani latihan intensif di Bengkulu. Persiapan dilakukan menyeluruh agar konsep pertunjukan mampu merepresentasikan kualitas musikal sekaligus jati diri budaya Bengkulu secara maksimal. Rombongan dijadwalkan bertolak dari Bengkulu menuju Medan pada 31 Agustus 2026, sebelum mengikuti seluruh rangkaian kegiatan di kawasan Danau Toba dan Dolok Sanggul.
Selama kurang lebih 30 menit di atas panggung, Kaganga akan membawakan lima komposisi. Pembuka adalah The Andes of Sumatra yang mengeksplorasi lanskap bunyi pegunungan Sumatera melalui perpaduan unsur tradisi dan pendekatan musikal kontemporer. Dilanjutkan Inok dengan nuansa intim yang menonjolkan kekuatan vokal dan instrumen tradisional. Komposisi Svara Bumei akan merefleksikan harmoni alam dan hubungan manusia dengan bumi. Penonton juga akan diajak menyusuri pesona dan misteri Pulau Enggano lewat Enigma Enggano. Pertunjukan ditutup dengan Bejogi, komposisi penuh energi yang menghadirkan semangat kebersamaan melalui ritme tradisional yang dinamis.
Di balik panggung, Kaganga didukung tim kreatif yang solid. Promotor dipegang Andika Eri Putra, komposisi musik digarap M. Riyans Israq Hari Saputra, sekretaris Ayu Wijayanti, manajer Rudi Nofindra, dan dokumentasi visual oleh Fachrudin Soekarno. Para penampil yang akan menghidupkan panggung antara lain Muhammad Zacqy Arfaly, Cecep Afrilizo, Pangeran Arsola, BRIPDA Fraga Ananda Annothesie, Chandra Pratama, dan Yolanda Reliansya.
Partisipasi Kaganga semakin istimewa karena LTTMF 6.0 juga menghadirkan kelompok musik tradisi dari berbagai provinsi di Indonesia mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, hingga Kepulauan Riau. Selain itu akan tampil pula A-Jak Drum Troupe dari Korea Selatan, Sun Der dari Thailand, dan Nadi Singapura dari Singapura.
Festival ini juga menjadi ruang jejaring strategis dengan hadirnya direktur festival, promotor, akademisi, dan pelaku industri musik dunia seperti Profesor Andrew Timar dari Kanada, Direktur Jazz Gunung Bromo Bagas Indyatmono, Direktur Music Lane Festival Jepang Ryuji Noda, Co-Founder Ziro Festival India Anup Kutty, serta Co-Founder AXEAN Festival Satria Ramadhan. Kehadiran mereka membuka peluang kolaborasi lintas negara dan akses bagi musisi tradisi Indonesia menuju jaringan festival global.
Bagi Kaganga, tampil di hadapan para kurator dan pelaku industri internasional adalah momentum penting untuk memperkenalkan musik tradisi Bengkulu sekaligus membuka pintu diplomasi budaya.
Manajemen dan seluruh anggota Kaganga menyampaikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan BPK Wilayah VII yang membawahi Provinsi Bengkulu, serta kepada Indonesia Creative Cities Network ICCN Korda Bengkulu yang terus membuka ruang bagi pelaku seni untuk tampil di forum nasional dan internasional.
Kaganga juga berharap dukungan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, media, komunitas seni, akademisi, dan masyarakat Bengkulu.
"Partisipasi Kaganga pada LTTMF 6.0 bukan sekadar membawa kelompok musik ke atas panggung, tetapi membawa nama Bengkulu, nilai-nilai budaya, dan identitas masyarakatnya kepada dunia. Kami memohon doa, dukungan, dan semangat dari seluruh masyarakat agar perjalanan ini berjalan lancar serta mampu mengharumkan nama Bengkulu di tingkat nasional maupun internasional," tutup perwakilan Kaganga.
Melalui LTTMF 6.0, Kaganga berharap musik tradisi Bengkulu semakin dikenal, diapresiasi, dan menjadi bagian dari percakapan budaya dunia, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus mencintai dan merawat warisan Nusantara.
Belum ada komentar.