BerandaSemua Berita
Detail Berita

Kalimantan

Memperkuat Warisan Budaya, Kalsel Kreatif Forum Bersama Pemprov Kalsel Dorong Model Living Museum di Banjarbaru dan Banjarmasin

Penulis: timmediaiccn

Memperkuat Warisan Budaya, Kalsel Kreatif Forum Bersama Pemprov Kalsel Dorong Model Living Museum di Banjarbaru dan Banjarmasin

1

|

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) Kajian Living Museum untuk dua kawasan bersejarah, yakni Kampung Tua Sei Jingah di Kota Banjarmasin dan Kawasan Pendulangan Intan Pumpung Cempaka di Kota Banjarbaru. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Disdikbud Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru, pada Selasa (6/10/2026).

FGD ini diselenggarakan dalam rangka merumuskan konsep Living Museum sebagai model pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangan warisan budaya yang berbasis pada masyarakat serta lingkungan setempat. Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur kebudayaan, pariwisata, pemerintah daerah, akademisi/ahli cagar budaya, kepolisian, kelompok sadar wisata (pokdarwis), hingga pelaku ekonomi kreatif.

Kajian ini menempatkan kekayaan budaya dan dinamika kehidupan masyarakat sebagai inti dari pengembangan kawasan. Kawasan Sei Jingah diproyeksikan sebagai ecomuseum budaya sungai dengan bentang rumah Banjar dan tradisi pesisirnya, sementara Kawasan Pumpung Cempaka dikembangkan dengan pendekatan working heritage berbasis tradisi pendulangan intan tradisional yang terhubung dengan Meratus UNESCO Global Geopark.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Kalimantan Selatan, Manggar Sari Ayuati, menilai pengembangan Living Museum memiliki keterkaitan erat dengan upaya konservasi kawasan cagar budaya.

“Satu yang utama yaitu ditetapkan menjadi situs budaya di tahun 2012. Jadi sangat klop untuk konservasi. Ini akan sangat membantu dalam pembangunan ke depannya,” ujar Manggar.

Ia menambahkan, tantangan pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga membutuhkan kesabaran masyarakat serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Manggar mencontohkan keberadaan makam-makam tua dengan nisan kayu ulin yang mulai mengalami perubahan material dan bentuk sehingga berisiko mengikis karakter asli warisan budaya.

Menurutnya, program Living Museum dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pelestarian. Dengan demikian, aktivitas kunjungan wisata maupun ziarah tidak hanya bernilai sosial dan religius, tetapi juga memperkuat kesadaran sejarah.

Dari perspektif ekonomi kreatif, perwakilan dari Kalsel Kreatif Forum (KKF), Suhari, menekankan pentingnya memperjelas pembagian peran dan hubungan antara sektor kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

“Ada rumah Banjar dan pendulangan itu kebudayaan, ada kunjungan ke rumah dan site itu pariwisata, lalu jika ada sirkulasi keberlanjutan dan perputaran ekonomi, itulah ekrafnya,” tegas Suhari.

Ia menjelaskan bahwa tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi belum tentu menandakan berjalannya aktivitas ekonomi kreatif. Sektor ekraf baru benar-benar bergerak ketika terjadi sirkulasi nilai dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal. Konsep Living Museum dinilai menjadi wadah ideal yang mempertemukan pelestarian budaya, pengalaman wisata, kreativitas warga, dan perputaran ekonomi daerah.

Dalam diskusi tersebut, para peserta memberikan sejumlah masukan strategis, antara lain penguatan dokumentasi dan arsip sejarah, pemeliharaan rumah tradisional Banjar, pengembangan fasilitas umum dan sarana pendukung, kejelasan batas kawasan, hingga penggalian potensi ekonomi masyarakat. Pemerintah Kota Banjarbaru dan Kota Banjarmasin menyambut positif hasil kajian ini sebagai rujukan penyusunan kebijakan program berbasis masyarakat.

Khusus kawasan Pumpung, perhatian difokuskan pada keberlanjutan pemanfaatan kawasan dan penguatan narasi sejarah pendulangan intan. Perwakilan Kecamatan Cempaka menyampaikan bahwa hadirnya Pumpung Creative Space yang diluncurkan sejak 26 Agustus lalu diharapkan mampu menghidupkan kembali memori kolektif penambangan intan tradisional, termasuk pemanfaatan artefak dan bangunan bersejarah sebagai media edukasi dan pariwisata.

FGD ini menegaskan bahwa pengembangan Living Museum tidak sekadar menciptakan destinasi wisata baru, melainkan menjadikan sejarah, budaya, pengetahuan lokal, dan kehidupan masyarakat sebagai pengalaman kawasan yang hidup.

Kajian Living Museum Sei Jingah dan Pumpung ini diharapkan menjadi pijakan utama merumuskan model tata kelola kawasan berbasis ecomuseum yang mampu menjaga identitas budaya lokal, memberdayakan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif secara berkelanjutan.

Default Avatar
3000 karakter tersisa

Belum ada komentar.