JAKARTA
Kota Batu Presentasikan Agrokreatif Gastronomi di Hadapan Panselnas UCCN Komitmen Menuju Living Mountain Gastronomy Ecosystem dan Jejaring Kota Kreatif UNESCO
Penulis: timmediaiccn
JAKARTA — Pemerintah Kota Batu resmi mempresentasikan proposal nominasi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 pada Seleksi Nasional Tahap II di hadapan sembilan anggota Panitia Seleksi Nasional (Panselnas), Rabu (2/9/2026), di Ruang Kompeten Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Kota Batu menjadi daerah pertama yang memperoleh kesempatan melakukan pemaparan setelah sebelumnya dinyatakan lolos Seleksi Nasional Tahap I. Presentasi ini menjadi tahapan krusial dalam menentukan daerah yang akan mewakili Indonesia menuju proses nominasi UNESCO.
Delegasi resmi Kota Batu dipimpin Wali Kota Batu Nurochman, didampingi Bangun Yulianto (Kepala Bappelitbangda), Sujud Hariadi (Ketua BPC PHRI Kota Batu), dan Alan W. Hafiluddin (Koordinator Tim Dossier UCCN).
Sesuai ketentuan seleksi, presentasi berlangsung selama 40 menit, terdiri atas 10 menit pemaparan dossier dan 30 menit sesi tanya jawab. Pada sesi kedua, Panselnas memberikan sejumlah pertanyaan strategis, termasuk penajaman mengenai alasan Kota Batu memilih Gastronomi sebagai bidang yang diusulkan dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO.
Hexahelix Perkuat Nominasi Kota Batu
Sebelum presentasi, Pemerintah Kota Batu menggelar briefing strategis yang melibatkan seluruh unsur Hexahelix, mulai dari Bappelitbangda, Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Diskumdag, Diskominfo, Bagian Perekonomian dan SDA, Komisi Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif, PHRI, hingga komunitas pegiat industri kreatif.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menegaskan bahwa pengusulan UCCN merupakan gerakan bersama yang mengintegrasikan kebijakan pembangunan, pertanian, kebudayaan, pariwisata, perdagangan, komunikasi publik, serta ekonomi kreatif dalam satu ekosistem.
Batu Agrokreatif: Dari Pertanian Pegunungan Menuju Gastronomi Dunia
Dalam dossier bertajuk “Batu Agrokreatif – From Mountain Agriculture to Global Gastronomy”, Kota Batu memperkenalkan identitasnya sebagai Living Mountain Gastronomy Ecosystem. Konsep ini memandang gastronomi bukan sekadar kuliner, melainkan warisan budaya hidup yang lahir dari hubungan erat antara bentang alam pegunungan, tradisi agraris, petani, UMKM pangan, hingga pengalaman wisata berkelanjutan.
Lima keunggulan utama yang menjadi fondasi nominasi meliputi Mountain Agriculture, Living Food Heritage, Community-Based Food System, Tourism as a Market, dan Farm-to-Experience. Kelima aspek tersebut menggambarkan rantai nilai pangan yang utuh, dari lahan pertanian hingga menjadi pengalaman gastronomi bagi wisatawan.
Empat Daerah Bersaing di Seleksi Nasional
Seleksi Nasional UCCN 2026 diikuti oleh empat daerah dari berbagai bidang kreatif, yakni Kota Batu dan Kota Padang pada bidang Gastronomy, Kabupaten Bantul pada bidang Craft & Folk Art, serta Kabupaten Sleman pada bidang Film & Animation.
Hasil seleksi akan diumumkan melalui surat resmi Kementerian Ekonomi Kreatif sebagai penetapan daerah yang mewakili Indonesia pada tahapan nominasi UNESCO.
Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa keikutsertaan Kota Batu dalam UCCN merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi daerah sebagai pusat Agrokreatif Gastronomi Indonesia.
“From Mountain Agriculture to Global Gastronomy bukan sekadar slogan, tetapi visi Kota Batu untuk menjadikan kekayaan pertanian, budaya, dan kreativitas sebagai kontribusi Indonesia bagi Jejaring Kota Kreatif UNESCO.”
Dengan semangat kolaborasi Hexahelix, Kota Batu optimistis mampu menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network dan membawa model pembangunan berbasis pertanian pegunungan ke panggung global.