Jayapura
Film Operasi Malino: Lembar yang Hilang Terpilih sebagai Pemenang Sayembara Film Narasi Kepahlawanan Kemenbud 2026
Penulis: timmediaiccn
Film pendek berjudul Operasi Malino: Lembar yang Hilang terpilih sebagai salah satu dari 13 pemenang kategori Film Pendek dalam Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Film ini lolos setelah bersaing dengan 89 proposal film pendek yang masuk.
Film ini berlatar di Hollandia, sekarang Jayapura, pada tahun 1946. Ceritanya mengikuti Iriani, seorang penata arsip Papua yang bekerja di kantor administrasi NICA. Ia secara tidak sengaja menemukan dokumen rahasia berisi rencana penangkapan para pengikut Silas Papare.
Iriani pun dihadapkan pada dilema besar: mengembalikan dokumen tersebut dan menyelamatkan masa depannya bersama Wili, atau mengambil risiko dengan menyembunyikannya demi membantu perjuangan rakyat Papua. Film ini ingin menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya digerakkan oleh tokoh-tokoh besar, tetapi juga oleh keberanian orang-orang biasa yang namanya kerap tidak tercatat.
Film ini disutradarai oleh Wahyu Mika. Naskahnya ditulis oleh Wahyu Mika bersama Muhammad Ilham Mustain Murda atau Iam Murda. Selain sebagai penulis, Iam Murda juga bertindak sebagai produser melalui rumah produksi Indonesia Art Movement. Untuk memperkuat latar dan konteks sejarah yang diangkat, tim produksi turut melibatkan Marvel Dalty sebagai tim riset.
Terkait kelolosan tersebut, tim produksi menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya.
“Kami sangat bersyukur dan tentu merasa bangga. Bagi kami, kelolosan ini bukan hanya kemenangan sebuah film, tetapi juga pengakuan bahwa sejarah Papua layak hadir dan mendapatkan tempat dalam narasi besar sejarah Indonesia. Proyek ini lahir dari Papua, dikerjakan oleh talenta-talenta Papua, dan membawa sudut pandang Papua sebagai bagian penting dari perjuangan bangsa,” ungkap tim produksi.
Sutradara film, Wahyu Mika, menilai pencapaian tersebut juga membawa harapan bagi pertumbuhan ekosistem perfilman di Tanah Papua.
“Kelolosan ini kami harapkan dapat menumbuhkan kepercayaan bahwa Papua tidak hanya menarik sebagai lokasi atau latar cerita, tetapi juga memiliki penulis, sutradara, pemain, kru, komunitas, dan rumah produksi yang mampu melahirkan karya berkualitas. Ekosistem perfilman Papua harus dibangun secara bersama-sama, mulai dari pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dukungan terhadap proses produksi, hingga membuka akses distribusi bagi karya-karya sineas Papua,” ujar Wahyu Mika.
Produser film, Iam Murda, menambahkan bahwa kemenangan tersebut perlu menjadi pintu bagi lahirnya lebih banyak ruang kolaborasi dan regenerasi sineas di Papua.
“Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya tentang satu film atau satu rumah produksi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kesempatan ini dapat membuka jalan bagi teman-teman sineas muda Papua. Kami ingin semakin banyak anak muda Papua yang terlibat, belajar, mendapatkan pengalaman produksi yang baik, dan percaya bahwa mereka juga bisa bekerja serta bersaing dalam ekosistem perfilman nasional,” ungkap Iam Murda.
Tim produksi menyadari bahwa kelolosan ini turut membawa tanggung jawab besar. Film tersebut harus dibuat berdasarkan riset sejarah yang kuat, penghormatan terhadap para tokoh perjuangan, serta kualitas artistik yang baik.
“Harapan kami, ketika nanti ditayangkan, film ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga membuka percakapan baru tentang peran orang Papua dalam sejarah perjuangan Indonesia. Kami ingin Operasi Malino: Lembar yang Hilang menjadi bagian dari langkah kecil untuk memperkuat ekosistem perfilman Papua yang mandiri, berkelanjutan, dan terhubung dengan perfilman nasional.”
Belum ada komentar.