KEPULAUAN MENTAWAI
Enam Hari di Maileppet, Musinuruk Ka Simaeruk #3 Satukan Budaya, Kreativitas, dan Ekonomi Lokal
Penulis: timmediaiccn
MAILEPPET, KEPULAUAN MENTAWAI — Musinuruk Ka Simaeruk #3 – Festival Ka Pusagaikat 2026 digelar selama enam hari, 24–29 Agustus 2026, di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai. Digagas Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia, festival ini menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk mempertemukan pangan lokal, seni, budaya, pendidikan, kreativitas generasi muda, komunitas, dan ekonomi lokal.
Mengangkat tema “Ka Pusagaikat” atau bersagu, festival menjadikan sagu bukan sekadar bahan pangan, tetapi bagian dari pengetahuan, kebiasaan, identitas, dan kehidupan masyarakat Mentawai. Selama pelaksanaan, sekitar 1.400 pengunjung hadir dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pelajar, masyarakat umum, seniman, pelaku UMKM hingga komunitas.
Beragam kegiatan digelar, mulai dari pameran seni dan foto, pojok literasi, lomba mewarnai, lokakarya Titi atau tato Mentawai dan pembuatan gelang Letcu, hingga teater cerita asal-usul sagu serta lomba memasak sagu tradisional dan inovatif. Sebanyak 116 anak dari sekolah dan masyarakat umum di Kecamatan Siberut Selatan mengikuti lomba mewarnai sebagai bagian dari upaya mengenalkan budaya sejak dini.
Ruang regenerasi budaya juga diperkuat melalui lomba tari kreasi Pasidereat Sagaik, Turuk Laggai, pertunjukan kelompok seni, serta pemutaran dan diskusi film dokumenter dan fiksi. Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi generasi muda untuk mempelajari, menampilkan, dan mengembangkan seni serta pengetahuan yang berasal dari lingkungan budaya mereka sendiri.
Pada 28 Agustus 2026, festival turut menghadirkan talkshow ekonomi kreatif bertema “Kreativitas Berakar dari Kearifan Lokal Mentawai” dengan Yulviadi Adek, Wakil Direktur Media Komunikasi Indonesia Creative Cities Network (ICCN), sebagai keynote speaker dan Anjelo Kalil, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai, sebagai narasumber. Talkshow membahas potensi kearifan lokal sebagai sumber kreativitas dan peluang ekonomi bagi generasi muda, komunitas, UMKM, dan masyarakat.
Dari sisi ekonomi, festival juga membuka ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan dan menjual produk kepada pengunjung. Selama enam hari, penjualan UMKM tercatat lebih dari Rp2 juta, sementara sejumlah karya seniman yang dipamerkan juga berhasil terjual.
Bagi Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia, Musinuruk Ka Simaeruk #3 bukan sekadar festival, tetapi bagian dari upaya membangun ruang kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat. Melalui seni, edukasi, kreativitas, dan ekonomi lokal, festival mendorong generasi muda untuk mengenal, mempraktikkan, sekaligus mengembangkan kebudayaan Mentawai agar tetap hidup dan relevan.
Pelaksanaan festival juga didukung melalui gotong royong berbagai pihak, mulai dari masyarakat, seniman, pelaku UMKM, pelajar, komunitas, pemerintah, hingga mitra pendukung. Dari Desa Maileppet, Musinuruk Ka Simaeruk #3 meninggalkan pengalaman, karya, pengetahuan, dan ruang pertemuan baru bagi masyarakat untuk terus merawat kebudayaan Mentawai.
Belum ada komentar.